VJ Weblog

Just another WordPress.com weblog

Jurnalisme damai Maret 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Jurnalistik, Opini — glencp @ 10:54 pm

Istilah Jurnalisme Damai ini mulai diperkenalkan pertama kali oleh Profesor Johan Galtung, seorang ahli studi pembangunan di tahun 1970. Dalam penelitiannya, Galtung mencermati banyak jurnalisme perang yang mendasarkan kerja jurnalistiknya pada metoda jurnalisme olahraga, yaitu ada pihak yang menang dan pihak yang mengalami kekalahan antara dua pihak yang berhadapan. Jenis jurnalisme damai mulai disosialisasikan secara intensif di berbagai negara di dunia, khususnya di wilayah-wilayah konflik mulai akhir tahun 1980-an. Sedangkan di Indonesia sendiri, jurnalisme damai menjadi wacana ketika terjadi konflik Ambon, menyusul konflik-konflik lain atas dasar SARA.

Menilik perkembangan pers nasional saat ini pasca reformasi, saya sebagai seorang jurnalis merasakan begitu banyak perubahan yang terjadi. Di dalam situasi pasca perubahan situasi politik yang terjadi di Indonesia belakangan ini, secara pribadi saya menilai pers nasional belum lah menemukan format yang ideal. Meski pun kita telah memiliki UU Pers yang menjamin kebebasan pers (sangat berbanding jauh dibandingkan sebelum reformasi),  UU itu sendiri masih belum dilindungi oleh sistem peradilan sehingga pers sendiri masih belum mendapat perlindungan yang sebenar-benarnya.

Masih begitu banyak kasus yang menimpa rekan sejawat dalam menjalankan tugas jurnalistiknya yang akhirnya berakhir di meja peradilan kita dengan tidak mengacu kepada UU Pers. Sebagai contoh kasus pemukulan wartawan ANTV dan TPI pada peliputan di UPN Veteran Surabaya dan juga kameraman RCTI di Lapindo, Porong.

UU Pers menurut saya sudah lebih baik dalam membuat pers kita semakin dewasa dalam pelaksanaan fungsi-fungsinya, akan tetapi dalam penerapannya sendiri terkadang masih terbentur dengan kepentingan-kepentingan individu, sehingga masyarakat kita menilai pers kita menjadi kebablasan dalam melaksanakan kebebasan persnya.

Dalam berbagai kasus benturan antara pers dan masyarakat, justru masyarakat kita lebih banyak mengadu kepada Dewan Pers, akan tetapi dikarena Dewan Pers sendiri tidak memiliki instrumen untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut, maka Dewan Pers sering mengembalikan kepada masing-masing media untuk menyelesaikannya. Jadi, perlu dipikirkan bagaimana pengaduan dari masyarakat tersebut bisa direspons dengan baik oleh Dewan Pers, dan pers pun patuh kepada Dewan Pers yang kita miliki.

Saat ini yang perlu dipikirkan oleh masyarakat pers kita adalah bagaimana menghadapi opini masyarakat, bukan lagi kepada pemerintahan yang memberlakukan breidel seperti jaman lalu. Meski pun diberikan kesempatan Hak Jawab, tetapi masyarakat lebih suka menggunakan ‘aksi demo’, mendatangi media yang bersangkutan, kemudian ke pengadilan. Hal ini terjadi di tengah ambivalennya penegakkan hukum yang tidak menggunakan UU Pers sehingga pers sering menjadi korban.

Masih ingat dengan penerbitan majalah Playboy di medio Agustus tahun 2006 kemarin yang menimbulkan protes keras dari beberapa elemen keagamaan, diteruskan dengan demo yang berujung pada pengrusakkan kantor majalah Playboy, sehingga mereka akhirnya memindahkan seluruh operasionalnya ke pulau Bali, yang dianggap lebih aman aman. Padahal kalau mau jujur, masih banyak majalah atau pun tabloid lain yang lebih vulgar dalam ‘menampilkan’ pornografi. Sehubungan dengan kasus tersebut, pemerintahan dan DPR kemudian baru menyusun RUU-APP yang juga banyak ditentang oleh sebagian elemen masyarakat lain. Ini berkaitan dengan pendidikan rakyat kita, dan sungguh masih banyak ketidak-adilan yang terjadi di dunia pers kita.

Apakah ini terjadi karena persaingan dunia usaha ?

Sekarang kita sudah masuk dalam pasar kapitalisme, itu artinya modal yang memegang peranan. Siapa yang punya modal kuat tidak terbendung untuk menguasai pers. Itu artinya, mereka yang modalnya nanggung, siap-siap untuk gulung tikar. Tapi kita memiliki komitmen nasional utnuk menghindari oligopoli. Kita ingin ada media nasional dan daerah yang terpelihara independensi dan integritasnya. Peran negara perlu dalam hal ini. Masuknya pers luar semakin mempersempit persaingan, padahal dulu pemilikkan modal asing dalam pers nasional tidak diperbolehkan. Dampaknya apa terhadap pers kita ?

Pers asing yang masuk sekarang ini lebih banyak majalah yang populer dan menghibur. Memang tidak otomotis memiliki nilai-nilai positif untuk bangsa. Tapi hal itu tidak bisa dipungkiri, karena sekarang ini tidak ada yang bisa membendung kemajuan itu. Tapi, minimal pers bisa menyiapkan bangsa kita menjadi lebih tangguh. Ini tanggung jawab sosial pers. Kebebasan yang diemban pers nasional sekarang ini harus mampu meningkatkan kualitas kita supaya tidak terpuruk mendegradasi dirinya sendiri.

Apa yang harus dilakukan oleh pers kita ??

Jangan terlalu banyak mengeksploitasi konflik !!

Lakukan jurnalisme damai. Konflik selalu memang menarik untuk media tetapi harus ada batasnya. Contoh seperti kasus peliputan di Aceh, Papua, Ambon dan Poso haruslah dilihat dari sudut pandang kacamata bangsa Indonesia.

Jurnalisme damai HARUS memilih topik-topik yang bisa menawarkan SOLUSI, jangan hanya memaparkan masalah atau memberikan sebuah peristiwa dengan tayangan dan kata-kata bombastis, tetapi tidak memberikan solusi untuk penyelesaiannya. Jurnalisme damai adalah suatu upaya penyelenggaraan pers untuk menempatkan pers itu sendiri sebagai sebuah kekuatan yang bisa memberikan alternatif solusi. Pers yang cermat dalam mendalami sebuah masalah dan melihat adanya kebutuhan mendesak masyarakat agar masyakarat kita tidak terus bertikai. Jurnalime damai justru harus menjembatani kelompok yang bertikai untuk berdamai dan memberikan solusi kepada kedua belah pihak untuk mencari penyelesaian secara damai. Contoh yang paling gamblang adalah saat jurnalis kita memberikan kontribusi menjelang perjanjian Helsinski dalam merancang sebuah perdamaian di tanah serambi Mekkah.

Media memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi peredam konflik, tidak hanya pada masalah perbedaan pandangan. Jurnalisme damai tidak hanya dapat digunakan untuk menyelesaikan konflik politik, tetapi juga masalah-masalah sosial yang banyak berkembang di negara kita semenjak euforia reformasi melanda Indonesia.

Meski pun pers bukanlah lembaga perdamaian,  tetapi dapat mengarah kepada perdamaian. Itu terjadi ketika peranan pers kita saat berita yang diangkat mampu membangun berbagai opini yang menyejukkan dengan tetap memenuhi asas jurnalisme (objektif, akurat, dan seimbang).

GCP

 

Tantangan dalam peliputan sebuah berita Maret 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Jurnalistik, Opini — glencp @ 10:44 pm

(buat rekan-rekan yang ingin terjun ke dunia broadcast khususnya media elektronik/televisi)

Sekedar membagi tips untuk teman-teman yang ingin mencoba ‘terjun’ ke dunia broadcast. Ada teman yang mengatakan, takut tanpa memberi alasannya, mungkin karena masih merasa asing. Jawaban saya adalah, kalau belum dicoba, bagaimana bisa merasakan takut atau perasaan lainnya. Dunia broadcast bukanlah ‘momok’, jadi tidak perlu merasa asing atau bahkan takut untuk mengenal bahkan menjalaninya. Kita hidup dan memiliki hubungan sosial dengan mahluk hidup yang lain, artinya banyak hal yang bisa kita dapat sebagai awal langkah untuk belajar bagaimana menjadi seorang reporter, kamera person bahkan menjadi produser untuk sebuah topik liputan. Di bawah ini beberapa tipsnya.

Yang pertama, unsur drama manusia.

Ini adalah salah satu angle yang paling menarik, paling banyak dipertontonkan dan juga yang paling mudah dibuat. Kalau kita melihat betapa banyaknya tayangan infotainment di semua televisi swasta di Indonesia, maka itulah unsur ‘drama’ manusia, entah diambil dari sudut/angle kepribadian, pekerjaan, emosi, dan masih banyak lagi. Sekali lagi, bukan untuk membesarkan atau memanfaatkan kehidupan atau penderitaan orang lain, tetapi lebih kepada adanya unsur pendidikan, membagi informasi dan juga pengetahuan. Makanya saya jarang melihat tayangan infotainment yang lebih kepada unsur mengumbar kehidupan seseorang tanpa menperhatikan unsur-unsur ‘sopan santun’ dan menghormati privasi orang lain. Sudah bukan rahasia lagi kalau ada beberapa tayangan yang memang sengaja ‘dibayar’ oleh pribadi yang bersangkutkan untuk sekedar menaikkan popularitas dan mengeruk keuntungan dari tayangan tersebut. Hal ini bukanlah sebuah tantangan dalam peliputan berita, tapi lebih kepada unsur bisnis.

Yang kedua, laporan investigasi.

Kita tau setiap media massa memiliki team pencari fakta dalam memberikan setiap laporannya secara lengkap dan detail. Hal ini diperlukan untuk memberikan ‘nuansa’ berbeda dengan berita-berita yang disajikan oleh stasiun televisi lain. Semakin berbeda nuansa yang disajikan, maka penonton akan semakin tertarik untuk mengikutinya. Sebagai contoh, saat tewasnya mas Guntur Syaifullah dari SCTV. Stasiun ini memberikan nuansa lain dalam pemberitaan kasus meninggalnya kameraman mereka dibandingkan dengan RCTI, ANTV atau MetroTV karena SCTV memberikan berita secara lengkap dan terperinci, juga memiliki ‘keuntungan’ dari kasus meninggalnya karyawan mereka dalam peliputan tersebut. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh stasiun televisi lainnya karena akses untuk memberikan detail berita secara lengkap hanya dimiliki oleh SCTV. Alhasil, rating liputan 6 menjadi yang terbaik.

Yang ketiga, narsisme.

Biasanya seperti yang sudah-sudah, reporter lapangan yang bisa mendapatkan berita eksklusif dan mereportasekannya langsung dari lapangan/tempat kejadian memiliki kesempatan untuk naik jenjang karir. Kesempatan ini jarang bisa didapat kecuali kita memiliki akses yang luas serta kontak personal di mana pun juga. Semakin cepat berita itu disajikan, apalagi stasiun televisi yang lain belum meliputnya, maka semakin tinggi ‘nilai’ beritanya, dan karir yang baik menunggu di depan mata. Semua orang memiliki narsisme dalam kehidupannya, saya juga. Maka dari itu, sebagai seorang jurnalis, narsisme tidak diharamkan. Harus malah!!

Yang keempat, cek dan ricek berita.

Masih ingat dengan kasus hilangnya pesawat Adam Air pada tanggal 1 Januari 2007 ?

Saat itu diumumkan oleh 1 stasiun televisi bahwa mereka mendapat kabar bahwa pesawat AA sudah ditemukan dengan korban mencapai 96 orang dan yang selamat 12 orang. Maka dikirimkanlah regu/team penyelamat ke lokasi kejadian. Tapi apa yang terjadi, berita itu ternyata bohong alias palsu. Jangan menghitung berapa rupiah yang hilang dari pemberitaan tanpa konfirmasi A-1 (istilah untuk berita yang sudah pasti), tapi pikirkan bagaiman perasaan keluarga korban akibat pemberitaan itu. Sungguh menyedihkan.

Dalam setiap peliputan, kita HARUS memastikan bahwa berita yang akan kita sajikan memang memiliki fakta yang aktual, tanpa harus dibuat-buat, dan sudah kita konfirmasi kebenarannya. Bicara jujur, kadang ada berita-berita yang memang ‘sengaja’ dibuat untuk kepentingan beberapa orang atau golongan, sudah jamak itu, dan kalau sudah seperti itu, kita masuk ke ranah ‘politik’.

Mungkin masih banyak kekurangan dalam tips yang saya berikan, tapi keempat hal diatas adalah langkah dasar buat kita untuk terjun ke dunia broadcasting khususnya dalam peliputan sebuah berita.

Jangan pernah takut untuk terjun ke dunia broadcast, kita tidak akan pernah tau seperti apa kalau kita tidak pernah mau mencobanya. Kalau ada kemauan, disitu pasti ada jalan (pesan dari mas Guntur Syaifullah)

Glen Carolus Pattiradjawane  

 

 

Indonesia adalah negara sinetron Maret 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Media/Infotainment, Opini — glencp @ 10:36 pm

Saya mencoba menggali informasi ke teman-teman yang bekerja untuk rumah produksi, baik itu yang di Multivision, Sinemart, dan lain-lain tentang pertumbuhan sinetron di negara ini, dan jawaban mereka adalah..’tumben anak news tertarik sama sinetron..’ hahaha, siyal padahal maksud saya adalah untuk bertanya juga sampai seberapa jauh kontribusi pemasukkan iklan dari tayangan sinetron yang mereka jual ke perusahaan-perusahaan televisi di Indonesia. Dari situ, timbul pertanyaan yang keluar karena membaca salah satu blog milik seorang teman yang ‘berkeluh kesah’ tentang isi dan bobot sinetron yang ditontonnya pagi-pagi sebelum ia berangkat bekerja. Ini mengingatkan saya juga bahwa jam tayang sinetron-sinetron ini sudah merambah ke pagi hari, dimana saat para keluarga hendak bersiap-siap melakukan aktivitas mereka. Sungguh luar biasa ekspansi jam tayang ini karena saya sendiri pun baru menyadari setelah membaca blog teman tadi, bahwa jam tayang sinetron sudah mencoba ‘mengganjal’ atau ‘mencuri’ pemirsa yang biasanya menonton tayangan berita pagi.

Pertanyaan yang timbul adalah siapa yang paling bertanggung jawab terhadap ‘ekspansi’ tayangan sinetron di Indonesia, apakah :

a. Stasiun TV, karena mau membeli & menayangkan acara jelek/jiplakan demi rating & iklan
b. Produser, karena hanya memikirkan untuk mencari duit & tidak memikirkan kualitas
c. Sutradara/Penulis Cerita, karena tidak punya kreativitas untuk membuat acara bagus
d. Artis, karena tidak pilih-pilih peran selama honor ok & bisa terkenal
e. Masyarakat, karena doyan nonton acara jelek/jiplakan dan kurang kritis

Kalau kita mau jujur sama diri sendiri, sebenarnya tidak ada yang salah dari pilihan jawaban di atas, apalagi karena sudah menyangkut masalah bisnis dan ekonomi, hukum ekonomi yang paling dasar, supply and demand. Tidak ada keterpaksaan bagi pemirsa untuk mau menonton atau tidak, just push the on/off button, tapi bagi para pengiklan, ini adalah ‘ladang’ mereka untuk mendapatkan keuntungan secara bisnis.

Penonton kita masih terbuai dengan cerita-cerita ‘mimpi’ yang menurut mereka ’siapa tau saya bisa seperti itu’, dan fenomena ini yang berhasil ditangkap oleh para produser untuk menuangkannya dalam ide cerita, karena mereka adalah bagian dari para tukang mimpi itu. Saya tidak menyalahkan mereka, teman-teman produser saya, karena itu adalah bagian dari tugas mereka untuk membuat tayangan yang HARUS laku untuk dijual sehingga rumah produksi mereka mendapat kontrak dari stasiun televisi, dan mereka mendapat bayaran untuk itu. Dan stasiun televisi berhasil mendapatkan pengiklan untuk menayangkannya, sehingga mereka bisa meraih keuntungan dari mengisi slot jam tayang untuk menutup ongkos siar dan membayar karyawan mereka..sekali lagi hukum ekonomi yang sangat mendasar.

Dari pertanyaan teman saya, kenapa tayangan-tayangan/film-film opera sabun seperti Smallville, Charmed, Angel, Desperate Housewives, The X-Files, Ally McBeal etc jam tayangnya selalu malem banget ? Jawabannya mudah sekali, karena tayangan-tayangan film tadi menguras biaya pengeluaran daripada pendapatan para pelaku bisnis televisi. Film-film barat itu kurang laku dibandingkan dengan sinetron seperti Tersanjung (yang sampai 20 itu..), Wulan, dll yg menyerap banyak penonton, terutama kalangan ibu-ibu, dan tentunya ini berpengaruh pada pemasukkan iklan, sekali lagi kita kembali pada hukum ekonomi dan bisnis.

Saya menemukan sebuah ‘fenomena’ lain yaitu penonton yang paling menyukai tayangan-tayangan sinetron ini adalah mereka yang datang dari kalangan urban/menengah ke bawah, artinya mereka memiliki mimpi alam bawah sadar yang lebih luas karena tingkat kehidupan ekonomi mereka, jadi ada yang ingin cepat kaya dalam waktu sekejab tanpa usaha, ingin terkenal seperti pemain sinetron atau bintang film india, bermimpi ingin hidupnya glamour, dan sebagainya. Cerita-cerita tentang kepahlawanan, cinta sejati, penindasan oleh peran antagonis, dan happy ending paling disukai oleh kalangan ini. Sekali lagi, itu tidak salah, dan karena itu lah sinetron di Indonesia tumbuh berkembang luas sejalan juga dengan tingkat kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia yang memang masih di bawah rata-rata.

Saya juga berpikir seharusnya kita bertanya tentang penilaian terhadap bagus tidaknya sebuah tontonan itu terletak ditangan siapa? Terus apakah kita mempunyai kapasitas yang tepat sehingga bisa menilai bagus tidaknya tontonan tersebut? Saya pikir pasti semua insan yang bertanggung jawab terhadap hadirnya sebuah tontonan mempunyai penilaian sendiri-sendiri dan bisa menilai dimana letak kesalahannya. Itu juga yang membuat saya tidak pernah menonton tayangan sinetron (kecuali dipaksa), bukan karena saya tidak suka tetapi dikarenakan saya lebih menyukai tayangan yang lain seperti berita/news (ini karena berkaitan dengan kerjaan saya tentunya).

Sekali lagi, tidak ada yang perlu disalahkan dalam menyikapi timbulnya ‘agama’ baru di Indonesia ini, karena seperti hidup, menonton atau tidak mau menonton itu adalah pilihan. Masih banyak tayangan-tayangan lain yang lebih berkualitas dan memiliki bobot lebih, seperti National Geography, Animal Planet, atau juga tayangan-tayangan berita seperti CNN, BBC, Fox News atau juga E! Entertainment (teuteup)

Glen Carolus Pattiradjawane

 

 

Kapan jurnalis boleh ‘mencuri’ Maret 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Jurnalistik, Opini — glencp @ 10:27 pm

Saya ingin sharing pengalaman saat meliput kasus Munir di markas BIN tahun 2005.

Saat itu saya bersama beberapa jurnalis dari Metro TV dan SCTV telah tiba di markas BIN untuk meliput kedatangan team pencari fakta (TPF) yang bermaksud untuk memenuhi undangan kepala BIN, Mayjen (purn) Syamsir Siregar, berkaitan dengan tuduhan terhadap institusinya yang dikaitkan dengan kematian pejuang HAM, Munir.

 

Awalnya saya dan rekan-rekan jurnalis mencoba dengan cara diplomatis, bertanya kepada penjagaan (*jaga monyet *istilah saya) serta melaporkan keberadaan kami disana untuk meliput kedatangan TPF Munir. Tapi, tidak kami duga, justru pendekatan kami ditanggapi dengan sikap yang tidak ‘bersahabat’ (mungkin memang begitu kali ya 1st impression yang harus mereka berikan kepada masyarakat, secara Badan Intelejen Nasional gituh…)

 

Singkat kata, saya dan rekan-rekan tetap mencari cara, bagaimana bisa mendapat gambar dan liputan, meski harus berhadapan dengan tentara-tentara berpakaian ‘koboy’ ini. Setelah berunding, saya, Mahendra dari Metrotv dan juga rekan Nina dari SCTV mencoba mencari cara lain yaitu mengambil gambar dr seberang markas BIN yang kebetulan adalah jalur/rel kereta api. Saya dan Mahendro, melompat ke atas atap mobil dinas Metro dan mengambil gambar dari sana. Meski agak jauh, tapi inilah sight atau angle terbaik yg bisa kita dapat. Nina pun begitu, karena dia perempuan, tapi jiwa jurnalisnya sangat tinggi (layak kalo skng Nina menjabat sebagai koordinator liputan di SCTV). Kami ‘mencuri’ sebuah tayangan dengan acara apapun, yg penting dapat gambar !! Di akhir cerita, kami didatangi 2 orang bersenjata M16 A1 serta P-1 dan digelandang menuju pos penjagaan untuk dimintai keterangan. Waktu itu saya sempat berpikir akan bernasib seperti rekan-rekan pejuang HAM dan demokrasi yang diculik dan hilang sampai saat ini entah dimana keberadaannya, so saya menyempatkan diri untuk menelepon orang tua dan salah satu teman baik untuk mengabarkan posisi terakhir saya, apabila nanti saya ‘hilang’, meski itu tidak terjadi pada akhirnya.

 

Penyamaran’ atau kenekatan dalam mengambil gambar yang jelas-jelas sudah dilarang apakah termasuk dalam katagori ‘mencuri’ ? Yang saya tau, wartawan tidak boleh mencuri, baik itu mencuri gambar, omongan, dokumen (seperti skandal Watergate), dan lain-lain.

Ada beberapa tips sebagai pedoman bila terpaksa kita harus ‘mencuri’ :

 

Pertama, motivasi kita melakukan pencurian atau penyamaran tujuannya murni untuk kepentingan publik. Kita tdk mencari sensasi. Kita juga tdk mengejar hadiah di bidang jurnalisme. Artinya, ada sebuah isu dimana publik, secara masuk akal, kita perhitungkan penting untuk tahu. Masalah selingkuh dimana kedua belah pihak saling suka, tentu saja, akan diperdebatkan bila masuk ranah publik. Atau maling-maling kecil. Tapi kejahatan kerah putih atau pelanggaran hak asasi manusia, tentu lebih mudah diterima orang bila dimasukkan dalam ranah publik.

 

Kedua, wartawan sudah melakukan prosedur yang biasa untuk mendapatkan data, informasi, dokumen gambar atau suara, dengan frekuensi cukup, namun belum berhasil mendapatkan apa yang dicarinya. Artinya, ada dugaan si sumber memang hendak menyembunyikan informasi yang kita cari. Bill Kovach menekankan pentingnya prosedur normal ini ditempuh. Kita tidak boleh langsung saja menyamar. Harus mencoba prosedur biasa dulu. Kovach juga orang yang tidak terburu-buru memberi label “investigasi.”

 

Ketiga, pekerjaan mencuri harus dilakukan dengan seizin atasan si reporter. Artinya, ini pekerjaan di luar standar normal. Makanya kepala biro atau news manager harus tahu dan memberikan izin. Siapa tahu kelak ada gugatan hukum. Lebih baik kita bekerja dengan sepengetahuan atasan kita lebih dulu. Lebih baik mempersiapkan semuanya dengan teliti daripada ribut belakangan. Sebagai wartawan/jurnalis, kita tidak kebal hukum, artinya siap-siap bisa masuk penjara untuk pekerjaan yg kita lakukan.

Jadi jangan sampai ada anggapan, seorang jurnalis dengan ID-nya akan dapat lolos dari cegatan polisi yang memeriksa kelengkapan kendaraan (meski dalam pengalaman pribadi, saya lebih sering lolosnya ketimbang kena tilangnya.

 

Keempat, ketika hasil pencurian ini disajikan ke publik, entah lewat televisi, radio, internet atau suratkabar, kita juga harus transparan menjelaskan bahwa ia didapat dengan mencuri namun prosedur itu terpaksa ditempuh karena prosedur normal tidak berhasil.

Kita harus memberikan kesempatan kepada audiens/penonton untuk menilai sendiri. Kita tentu juga harus minta tanggapan dari pihak yang kita ‘curi’ untuk dimuat tanggapannya bersama dengan presentasi hasil penyamaran kita. Tanggapan ini diminta tdk pada saat penyamaran. Ia diminta sesudah kita mendapatkan informasi tersebut.

 

Glen Carolus Pattiradjawane

Terima kasih untuk mas Andreas Harsono dan Bill Kovach

 

Broadcastechnology; Quite also : give, offer, put forward, and submit Maret 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Jurnalistik, Opini — glencp @ 10:03 pm

Dunia kerdil tanpa informasi. Paling tidak itulah yang dirasakan para pakar dunia information technology. Pentingnya informasi makin terkait dengan perkembangan tehnologi dan semakin menuntut kecepatan waktu penyampaiannya. Buat apa berita akurat tetapi dalam penyampaiannya baru bisa tayang lebih dari 1×24 jam sehingga pemirsa tak sabar lagi menanti dan mengalihkan pencaharian informasi ke media lain?

Orang bilang tahun 2000-an adalah tahun informasi. Jika menilik dari 4 dekade terakhir sebenarnya terminologi informasi ini telah banyak mengalami evolusi. Tahun 60-an timbul istilah Data Processing dimana fokus ada pada DATA. Tahun 70-an muncul Management Information System, dengan fokus pada INFORMASI. Konsep MIS kemudian berkembang lagi menjadi DSS (Decision Support System) yang merupakan sistem penghasil informasi yang ditujukan pada suatu masalah tertentu yang harus dipecahkan dgn pengambilan keputusan oleh manajer. Beberapa saat kemudian DSS berkembang menjadi Office Automation yang membantu aktifitas kantor dgn kehadiran teleconference, e-mail, dsb. Terakhir telah ada gerakan untuk menerapkan Artificial Intelligent (AI) dengan spesialisasi Expert System dimana sistem berfungsi sbg seorang spesialis di bidangnya. Begitulah sekilas perkembangan informasi dan komputer yang banyak mempengaruhi perkembangan peradaban bumi.

Bagi saya broadcasting dlm kemasan entertainment atau apapun bentuknya adalah bagian kecil dari dunia yang beririsan dengan informasi tetapi memiliki cakupan yang sangat luas dan HARUS mudah aksesnya. Sampai-sampai orang tidak terasa bahwa ngerumpi di pantri kantor membahas siapa the next American Idol dan bagaimana sepak terjang Victoria Beckham di Holywood adalah bukti cepat dan pentingnya informasi. Dari istri direktur, coffee girl, office boy, lawyer dan MIS manager semuanya bisa mendapat berita selebritis dunia. Ini tidak terjadi dengan bentukan informasi dalam software Enterprise Resource Planning (ERP) yang membahas Front End Business Process dari mulai sales & marketing sampai ke logistics, production, dan financial. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengerti apa itu ERP (saya termasuk yg katagori gaptek soal ini) dan bagaimana alur business process di dalam ERP. Di sanalah saya melihat perbedaan pengaruh dan cakupan antara informasi yang pengejawantahannya dalam software aplikasi dan berita terkini yang disiarkan oleh broadcaster.

Market share dunia broadcast jauh lebih luas! Dgn semakin tingginya kewaspadaan tentang hal ini, banyak orang terjun dan menekuni dunia ini. Namun sayang masih tak jarang juga kita temui diantara mereka kurang bertanggung jawab dalam pemberitaan. Makin banyak masyarakat yang terintimidasi oleh berita. Disisi lain kelemahan hukum untuk melindungi insan pers masih sangat dirasakan. Masih segar di ingatan kita peristiwa simpang siur jatuhnya Adam Air di awal tahun 2007 yang entah masih berlanjut sampai sekarang, terlepas dari mana yg benar/salah, ketegasan hukum perlu dipertanyakan di sini.

Dari ilustrasi di atas, saya punya keyakinan untuk mencoba dunia broadcast dengan perspektif lain, tapi tetap dengan misi untuk mencerdaskan bangsa. Sesuatu yang mungkin nampak klise tapi setidaknya seseorang harus berangkat dari idealisme untuk mencapai suatu tujuan. Saya ingin ikut serta memberikan ilmu pengetahuan dalam apapun itu bentuknya (termasuk entertainment) kepada khalayak luas disertai dengan keyakinan bahwa ini dilakukan sekalian untuk berdakwah. Karena itu saya mencoba mengeksplorasi dunia broadcast dengan perspektif news-online. Melakukan online-live reportase dengan kemasan pemberitaan yang tetap mengedepankan kode etik jurnalistik yaitu informatif, netral, kritis namun tidak mengintimidasi. Dalam pandangan saya, untuk skala proyeksi 5 tahun ke depan, dunia reportase dan memburu berita di lapangan mungkin suatu saat akan ditinggalkan. Saya lebih mengarah pada dunia news-online broadcast berbasis IT. Prinsip kerja VJ masih tetap diusung tetapi tidak lagi menitikberatkan pada presentasi seperti yang sudah-sudah. Secara logis ini juga dipengaruhi tuntutan publik bahwa presenter-presenter sekarang haruslah selalu tampil fresh, cantik dalam artian standar broadcast, 3B, dan dengan batasan usia di bawah 30 tahun (general opinion).

Jika seseorang ditanya apakah ia menjadikan pekerjaan sekarang ini sebagai batu loncatan atau tidak, saya pikir sebagian akan menjawab tidak. Ini tentu saja jika mereka ingin serius di bidang yang digelutinya. Bentuk baru aktualisasi diri dimana tidak lari dari naluri saya yang ingin memberikan lebih banyak kepada khalayak luas baik itu dengan mengajar di kelas, men-training klien, ataupun share pengetahuan dengan rekan sejawat. Popularitas dan kecukupan finansial adalah sesuatu yang mengikuti dan hanyalah sebuah alat untuk pencapaian cita-cita.

GCP 2008

To : IRH, terima kasih untuk memberi inspirasi tulisan ini

 

Pengaruh media Maret 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Media/Infotainment — glencp @ 9:51 pm

Begitu besarnya pengaruh media dalam suatu peristiwa baik personal, sosial, budaya, bisnis dan intrik, menjadikan media sering dimanfaatkan oleh sebagian kalangan untuk media promosi diri sendiri atau untuk menyampaikan suatu aspirasi yang tak sampai.

Kadang penyalahgunaan media oleh sebagian pihak yang dilakukan untuk kepentingan pribadi atau komunitas menjadi sesuatu yang lucu (masih ingat penemuan stanza baru lagu Indonesia Raya oleh Roy Suryo dan teamnya justru malah menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat), tetapi di lain pihak itu pula yang dicari media untuk bahan berita. Sampai saat ini media masih menjadi sarana untuk menyampaikan hal yang semula tidak terlihat atau terdengar dan sarana terbaik untuk menjadi netral.

Dengan adanya dinamisme dan keanekaragaman ciri serta selera masyarakat yang berbeda-beda dalam mengkonsumsi media, maka media terbagi menjadi beberapa segmen. Bayangkan kalau semua media yang ada hanya menyampaikan tentang politik saja, atau tentang hiburan saja atau tentang gosip saja, maka sulit sekali pemikiran kita untuk berkembang.

Sekarang tinggal kita, sebagai penonton, pembaca atau pendengar yang melakukan pemilihan dan penyaringan untuk ‘membeli’ yang terbaik buat diri kita sendiri, keluarga dan terutama untuk kepentingan bangsa (biasanya istilah klise ini yang selalu dipergunakan untuk menyampaikan suatu aspirasi), dan kita selaku media juga melakukan usaha untuk lebih melakukan pengetatan, penajaman dan pendistribusian yang sesuai dengan target share yang sesuai.

Beberapa rekan media setuju dengan pendapat bahwa media yang menyampaikan hiburan dan gaya hidup sampai saat ini masih menjadi yang terlaris dan merupakan pemasukkan terbesar untuk mereka. Namun terkadang dikarenakan oleh ketidaktahuan dan kurangnya informasi mengenai peraturan (yang sampai saat ini masih belum juga disahkan), maka terjadilah penyitaan dan penahanan (kasus Asian Agri vs jurnalis majalah Tempo).

Memang tidak bisa dipungkiri, kepentingan bisnis (tidak) selalu diatas segala-galanya. Tetapi bukan berarti kepentingan bisnis SELALU BISA mengalahkan kepentingan-kepentingan yang lain. Masih banyak cara yang bisa ditempuh untuk kembali pada hakekat media yang sebenarnya, yaitu memberikan informasi tanpa memihak, terpercaya dan yang paling penting, menyukseskan program pemerintah untuk memerangi kebodohan bangsa.

Chief Content Editor

Glen Carolus Pattiradjawane
glen.carolus@kantorberita.com

 

 

Youth, sex and TV Maret 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Jurnalistik, Media/Infotainment — glencp @ 9:45 pm

It has been almost a truism that children need to be protected from sexually oriented themes in the media. It’s assumed by many that this is so self-evident that it’s a waste of time to even research the issue.

As a result of the findings of a number of studies, however, many of the beliefs about children and sex are being challenged. In fact, evidence now indicates that many of the widely held beliefs in this area have been the cause of some severe problems, both for youth and society.

Because of the cloud of emotion that surround the issue if sex in general, it has been difficult to do research or publish findings in this area, especially when the research involves children and can threaten the deep personal feelings held by most adults.

Is There A Sexual Revolution?

A national magazine, which undertook a study of the need for sex education in the school, stated that this country presently in the middle of a period of “wrenching change” in the sexual attitudes and behaviour of youth, and most of it is clearly without guidance, information, or control.

Television, being the highly influential medium that it is, has been both part of the solution and part of the problem in the area of sex and youth. It has been part of the solution because it has helped to bring sexual topics out in open (to the consternation of some viewers) where they have a chance of being faced and dealt with.

Research by the TV Watch community reported in 2005 showed that 15 to 24 year olds in Indonesia get most of their information about sex from their friends. This is followed closely by Sex Education Courses. Parents rank third.

We paid, and are continuing to pay a very high price for the silence in matters pertaining to the honest, straight forward presentation of sexual information. The “triple and drivel” about sex that is presented to the adolescent is “dishonest, hypercritical and half baked,” according to one source, who then went on to say that our schizophrenic efforts to prevent adolescent from establishing contact with the real world, whether beautiful or painful, does nothing more than widen the gap between ourselves and them, and make effective adjustment to life more difficult.

Radio and television have been very instrumental in opening doors to the discussions of some topics which were previously ‘taboo’. But sex is not doing much better with the present “demand for performance” and “sexual jock” themes and pressures than it did under the previous “cloak of shame.”

Both extremes have caused, and are causing some severe problems among youth.

GCP 2008

Sources: Syllabus for Universitas Katolik Parahyangan, International Communication class, 2007

 

Tidak ada yang tidak mungkin Maret 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Opini — glencp @ 9:40 pm

Punya anak buah yang kemudian sukses meretas karier membuat saya sungguh bangga dan bahagia. Jadi teringat masa-masa susah dan meniti karier dari bawah bersama-sama, then sekarang menikmati hasil dari perjuangannya dulu. Orang-orang seperti dia ini saya yakini akan dapat mengatasi semua persoalan, baik itu di lapangan maupun dengan atasannya. Apalagi untuk seorang reporter. Banyak kendala yang bakal dia hadapi, terutama di jaringan TV nasional. Dengan produser lapangan, korlip (koordinator liputan), exprod (executive producer) bahkan dengan kameraman dan editor sekalipun.

Saya jadi teringat dengan almarhum mas Guntur Syaifullah, mentor sekaligus mantan kameraman senior SCTV yang meninggal dalam tugas peliputannya. Beliau selalu mengingatkan kepada rekan-rekan sejawat juga pada saya, bahwa perjuangan untuk menjadi sukses itu tidak pernah mengenal waktu. Menjadi sukses itu tidak pernah diraih dengan mudah. Selalu ada pengorbanan. Makanya saya tidak pernah percaya sukses itu diraih hanya dengan mimpi dan keajaiban. Faktor keberuntungan memang ada, tapi prosentasenya sangat kecil.

Saya sangat menghargai orang yang menjadi sukses karena usahanya yang gigih tanpa kenal kata menyerah. Mereka-mereka ini jatuh bangun dalam usahanya, mau belajar dari pengalaman, dan yang paling penting, tidak pelit dalam membagi pengalaman dan ilmu. Almarhum mas Guntur adalah salah satu contoh.  Beliau tidak pernah berhenti memberi nasihat dan ilmu di sela-sela tugasnya. Menyapa mereka yang belum pernah dikenal, dan larut dalam obrolan tentang pengalaman-pengalamannya, disisipin dengan motivasi apabila kita (saya) menemui kendala di lapangan. Tidak ada kesan sombong atau menggurui, jadilah transfer ilmu di lapangan. Yang kadang menjadi pertanyaan saya dalam hati, kenapa orang-orang seperti mas Guntur ini selalu ’mendahului’ kita, kenapa tidak bandar-bandar narkoba itu saja yang mati duluan (maafkan ungkapan kata kasar saya). Tapi itulah yang namanya keseimbangan alam. Ying and Yang.

Kembali pada topik diatas, rekan saya itu sekarang sudah menjadi seorang reporter handal. Yang saya kaget, pagi-pagi dia menelepon saya, menanyakan kabar dan mengucapkan terima kasih karena sempat jatuh bangun bersama saya saat membangun sebuah TV lokal di Surabaya. Saya katakan pada dirinya, tidak usah terima kasih. Apa yang sekarang sudah diraih adalah hasil dari usaha dan perjuanganmu selama ini. Pantang menyerah, tidak mudah putus asa, dan selalu mau belajar dan belajar. Di akhir pembicaraan kita, dia berkata pada saya, suatu saat ingin menjadi tenaga pendidik untuk membagi ilmu yang pernah dia dapat…wew

Tidak ada yang bisa diraih tanpa usaha dan kerja keras. Saya percaya kalau dibarengi dengan doa, apapun itu bentuk usaha dan perjuangan kita, asal kita fokus dan komit (terima kasih SCS), setiap bentuk langkah usaha yang ingin kita raih pasti berhasil. Jangan menyerah dengan keadaan yang sekarang, karena setiap kegagalan yang kita dapat adalah mungkin kesuksesan tertunda yang akan kita raih. Waktunya kapan ? Kita tidak akan pernah tahu.

GCP 2008

 

Menguji akurasi berita Maret 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Jurnalistik — glencp @ 9:35 pm

Akurasi adalah kunci kredibilitas. Ketidak-akuratan biasanya disebabkan karena kecerobohan, kemalasan, penipuan atau ketidakpedulian reporter dalam menuliskan hasil reportasenya. Pengecekan ulang sebelum kita menulis, membaca kembali dengan hati-hati dan mengeceknya kembali setelah kita menulis adalah benteng terbaik terhadap ketidak-akuratan.

Penulis dan pembaca mempunyai keperluan yang berbeda, namun bisa bekerjasama. Penulis tak ada artinya tanpa pembaca, dan pembaca masuk dalam sebuah cerita dengan harapan besar bisa memahami semuanya.

Tanggung jawab yang terbesar terletak pada penulis. Jika penulis mengkhianati harapan pembaca dengan membuat sejumlah kesalahan atau kekurang-tepatan, dia merusak kerjasama yang telah terbentuk.

MENGUJI AKURASI
Berikut ini adalah elemen-elemen utama dalam mencermati sebuah fakta atau
detil.

Jangan menebak
Penulis harus memegang betul apa saja yang diketahui dan apa saja yang dimengerti. Jika kita tidak benar-benar memahami, cek kembali hal itu atau tinggalkan sama sekali. Jangan pernah mengira-kira.

Angka
Ceklah dua kali semua angka dan jumlah. Sebuah angka seringkali tak memiliki makna, kecuali diletakkan pada konteks yang mudah dipahami pembaca. Angka tentang omset penjualan misalnya, tak punya makna jika tak disertai omset penjualan tahun lalu, berapa prosentase kenaikan atau penurunan dari tahun-tahun sebelumnya.

Angka juga seringkali lebih bermakna jika disertai penjelasan yang menyentuh pembaca:

Seberapa jauh melampaui standar pencemaran udara?

Seberapa mahal dibanding APBN Indonesia tahun ini atau dibanding harga
mobil Kijang yang rata-rata dimiliki pembaca?

Seberapa luas dibanding lapangan sepakbola?

Dengan kata lain, angka yang ada sebaiknya disertai ekuivalennya yang mudah dicerap pembaca. Ukuran-ukuran juga sebaiknya dikonversikan ke ukuran yang lazim dipakai pembaca: km bukan mil, rupiah bukan dolar, meter bukan kaki, kg bukan pound. Jika Anda tak menghitung sendiri, sebutkan dari mana angka itu dikutip — dari sumber atau dari buku statistik, misalnya.

Nama, Tanggal dan Tempat
Tak ada orang yang suka namanya ditulis secara salah. Usahakan untuk meminta sumber berita mengeja sendiri nama sekaligus gelar dan nama panggilannya. Lihat di buku rujukan yang terpercaya, misalnya buku apa siapa atau ensiklopedi. Jangan percaya hanya pada leaflet atau selebaran atau omongan teman Anda.

Catatan penting tentang nama sumber: sebagian besar nama orang Indonesia terdiri atas dua kata (kecuali Soeharto misalnya). Cantumkan nama lengkap ketika pertama kali Anda menyebutnya dalam laporan. Pada saat kita menulis tentang tanggal, lihatlah kalender lebih dahulu. Ketika menulis tentang tempat, lihatlah kembali peta. Jika mungkin, milikilah sebuah buku pintar, infopedi, tabel konversi, kalender dan peta kecil. Letakkan pada tempat yang mudah dijangkau, sehingga tak enggan kita untuk mengecek sesuatu fakta.

Kutipan
Apakah sesuatu kutipan benar-benar seperti yang dikatakan oleh sumber? Apakah catatan kita benar dan kita berani mempertahankan sampai di meja pengadilan? Jika tidak, sebaiknya dijelaskan dengan kata-kata kita sendiri saja.

Terburu-buru
Kata-kata yang sering digunakan sebagai permintaan maaf atas beberapa kesalahan adalah: ”Saya tidak punya waktu untuk mengeceknya kembali”. Alasan yang tidak bisa diterima.

Cerita Bohong
Sangat jarang penerbitan yang tidak memasukkan hal ini ke dalam beritanya. Keragu-raguan adalah perlindungan yang terbaik. Jika sebuah cerita atau kenyataan seolah-olah sangat aneh atau menakjubkan untuk dipercaya, jangan percaya hal itu sebelum ada pembuktiannya.

Kesalahan Teknis
Perhatian yang istimewa sangat dibutuhkan pada tulisan khusus seperti ilmu pengetahuan, hukum, kedokteran, teknik, keuangan dan sejenisnya. Sediakan waktu untuk menelitinya, dan kemudian ceklah kembali informasi yang kita peroleh melalui pakar yang dapat dipercaya pada bidang tersebut.

Rekayasa
Manipulasi, perubahan konteks, distorsi, pemaparan yang salah, sindiran, kebencian, gosip, kabar angin dan melebih-lebihkan. Semua itu sangat tinggi ongkosnya.

GCP 2008

 

Perang urat syaraf (Psychological Warfare) Maret 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Jurnalistik — glencp @ 9:16 pm

Perang urat saraf adalah suatu strategi yang dilakukan oleh suatu pihak terhadap pihak lain (lawannya), dengan tujuan untuk melemahkan pertahanan lawan. Cara yang biasanya dilakukan adalah dengan menyebarkan opini, pemahaman dan pemikiran atau hal-hal yang dapat mempengaruhi dan membuat lawan secara tidak sadar mengikuti apa yang diinginkan oleh si pembuat.

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Dalam dunia blog, terkadang perbedaan antara sebuah tulisan hasil dari satu pemikiran dengan ‘asal nulis’ itu sangat tipis sekali. Saya punya banyak teman yang memiliki tulisan dengan pemikiran-pemikiran yang brilian, artinya tidak asal nulis. Meski bahasa yang digunakan adalah bahasa pergaulan sehari-hari, tetapi norma etika tetap dijaga. Memang, pernah ada yang bilang, kalo justru dunia blog itu adalah media ekspresi pemikiran yang tajam serta menarik, jadi apabila dibatasi dengan aturan etika, maka akan tampak seperti media-media yang lain, tidak ada bedanya seperti majalah atau koran.

Dalam blog, ada tulisan-tulisan yang mengundang timbulnya polemik yang bernuansa intelektual. Namun ada pula, tulisan-tulisan yang mengandung sifat agitasi dan propaganda yang melahirkan perang urat syaraf. Tulisan yang bernuansa intelektual memang mengajak kepada pencerahan. Namun tulisan yang bernada agitasi dan propaganda, tentu jauh dari semangat itu, karena yang dicari bukanlah kebenaran, tetapi upaya sistematis membentuk publik opini sesuai keinginan orang yang melakukannya. Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di zaman Hitler, mengatakan: Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya. Tentang kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang dirubah sedikit saja.

Ada sebuah peristiwa terjadi dan menjadi sebuah fakta. Fakta itu kemudian ‘diplintir’ sedikit saja dan disebarluaskan dengan teknik-teknik tertentu, maka dengan serta merta dia akan menjadi propaganda yang efektif. Sasaran propaganda tentu saja publik yang awam tentang seluk-beluk suatu masalah.

Kita tidak pernah menyadari, terkadang maksud tulisan seseorang itu adalah propaganda untuk mengajak pembaca menyetujui opini yang ditulisnya, baik itu dalam bahasa baku maupun bahasa yang berbentuk metaforfosa. Seseorang itu bisa siapa saja, rekan kerja atau bahkan sahabat kita sendiri, tergantung dari konotasi maksud dan tujuan dari tulisannya. Siapa saja bisa menjadi ‘agen’ propaganda. Biasanya ‘misi’ propaganda itu lebih sering berkonotasi negatif, tetapi bisa juga menjadi sebuah motivasi, bergantung dari cara kita memandangnya.

Apa hubungannya antara norma etika dengan propaganda?

Norma-norma etika harus hidup di dalam hati sanubari setiap orang. Dia harus tumbuh sebagai kesadaran. Sebelum melakukan sesuatu, setiap kita hendaknya bertanya kepada hati nurani kita masing-masing: patutkah hal ini saya lakukan? Dasar dari segala norma etika adalah keadilan. Adakah adil, kalau saya mengatakan sesuatu atau melakukan seuatu kepada orang lain? Ini adalah pedoman dalam tindakan. Persoalan etika, bukan persoalan bisa atau tidak bisa, mampu atau tidak mampu, dan dapat atau tidak dapat. Persoalan etika ialah persoalan boleh atau tidak boleh.

Biasanya, orang akan menjadi propagandis apabila ia memiliki 1 tujuan yang tidak dapat ia capai dengan cara-cara biasa, atau memang sudah dalam hidupnya ia menjadi ahli dalam hal memutar balikkan fakta. Saya tidak mengatakan bahwa seorang pengacara adalah propagandis ulung, tapi kenyataannya memang begitu. Adelin Lis lolos dari jeratan hukum karena pengacaranya mampu ‘memutar balikkan’ fakta sehingga majelis hakim memberikan vonis bebas kepadanya, dan masih banyak contoh lain.

Dengan propaganda, orang dapat menciptakan ‘surga’, namun dengan propaganda juga orang dapat menciptakan ‘neraka’ di tengah sebuah komunitas. Tulisan ini, mungkin dapat dijadikan bahan pemikiran, untuk membedakan antara diskusi intelektual untuk mencari pencerahan, dengan agitasi, propaganda dan perang urat syaraf yang dilakukan untuk membangun citra buruk, memojokkan dan menjatuhkan demi kepentingan sang agitator dan propagandis. Saya sungguh ingin menjauhkan diri dari kegiatan yang bernuansa agitasi, propaganda dan perang urat syaraf.

GCP 2008

Thanks Prof