Saya mencoba menggali informasi ke teman-teman yang bekerja untuk rumah produksi, baik itu yang di Multivision, Sinemart, dan lain-lain tentang pertumbuhan sinetron di negara ini, dan jawaban mereka adalah..’tumben anak news tertarik sama sinetron..’ hahaha, siyal padahal maksud saya adalah untuk bertanya juga sampai seberapa jauh kontribusi pemasukkan iklan dari tayangan sinetron yang mereka jual ke perusahaan-perusahaan televisi di Indonesia. Dari situ, timbul pertanyaan yang keluar karena membaca salah satu blog milik seorang teman yang ‘berkeluh kesah’ tentang isi dan bobot sinetron yang ditontonnya pagi-pagi sebelum ia berangkat bekerja. Ini mengingatkan saya juga bahwa jam tayang sinetron-sinetron ini sudah merambah ke pagi hari, dimana saat para keluarga hendak bersiap-siap melakukan aktivitas mereka. Sungguh luar biasa ekspansi jam tayang ini karena saya sendiri pun baru menyadari setelah membaca blog teman tadi, bahwa jam tayang sinetron sudah mencoba ‘mengganjal’ atau ‘mencuri’ pemirsa yang biasanya menonton tayangan berita pagi.
Pertanyaan yang timbul adalah siapa yang paling bertanggung jawab terhadap ‘ekspansi’ tayangan sinetron di Indonesia, apakah :
a. Stasiun TV, karena mau membeli & menayangkan acara jelek/jiplakan demi rating & iklan
b. Produser, karena hanya memikirkan untuk mencari duit & tidak memikirkan kualitas
c. Sutradara/Penulis Cerita, karena tidak punya kreativitas untuk membuat acara bagus
d. Artis, karena tidak pilih-pilih peran selama honor ok & bisa terkenal
e. Masyarakat, karena doyan nonton acara jelek/jiplakan dan kurang kritis
Kalau kita mau jujur sama diri sendiri, sebenarnya tidak ada yang salah dari pilihan jawaban di atas, apalagi karena sudah menyangkut masalah bisnis dan ekonomi, hukum ekonomi yang paling dasar, supply and demand. Tidak ada keterpaksaan bagi pemirsa untuk mau menonton atau tidak, just push the on/off button, tapi bagi para pengiklan, ini adalah ‘ladang’ mereka untuk mendapatkan keuntungan secara bisnis.
Penonton kita masih terbuai dengan cerita-cerita ‘mimpi’ yang menurut mereka ’siapa tau saya bisa seperti itu’, dan fenomena ini yang berhasil ditangkap oleh para produser untuk menuangkannya dalam ide cerita, karena mereka adalah bagian dari para tukang mimpi itu. Saya tidak menyalahkan mereka, teman-teman produser saya, karena itu adalah bagian dari tugas mereka untuk membuat tayangan yang HARUS laku untuk dijual sehingga rumah produksi mereka mendapat kontrak dari stasiun televisi, dan mereka mendapat bayaran untuk itu. Dan stasiun televisi berhasil mendapatkan pengiklan untuk menayangkannya, sehingga mereka bisa meraih keuntungan dari mengisi slot jam tayang untuk menutup ongkos siar dan membayar karyawan mereka..sekali lagi hukum ekonomi yang sangat mendasar.
Dari pertanyaan teman saya, kenapa tayangan-tayangan/film-film opera sabun seperti Smallville, Charmed, Angel, Desperate Housewives, The X-Files, Ally McBeal etc jam tayangnya selalu malem banget ? Jawabannya mudah sekali, karena tayangan-tayangan film tadi menguras biaya pengeluaran daripada pendapatan para pelaku bisnis televisi. Film-film barat itu kurang laku dibandingkan dengan sinetron seperti Tersanjung (yang sampai 20 itu..), Wulan, dll yg menyerap banyak penonton, terutama kalangan ibu-ibu, dan tentunya ini berpengaruh pada pemasukkan iklan, sekali lagi kita kembali pada hukum ekonomi dan bisnis.
Saya menemukan sebuah ‘fenomena’ lain yaitu penonton yang paling menyukai tayangan-tayangan sinetron ini adalah mereka yang datang dari kalangan urban/menengah ke bawah, artinya mereka memiliki mimpi alam bawah sadar yang lebih luas karena tingkat kehidupan ekonomi mereka, jadi ada yang ingin cepat kaya dalam waktu sekejab tanpa usaha, ingin terkenal seperti pemain sinetron atau bintang film india, bermimpi ingin hidupnya glamour, dan sebagainya. Cerita-cerita tentang kepahlawanan, cinta sejati, penindasan oleh peran antagonis, dan happy ending paling disukai oleh kalangan ini. Sekali lagi, itu tidak salah, dan karena itu lah sinetron di Indonesia tumbuh berkembang luas sejalan juga dengan tingkat kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia yang memang masih di bawah rata-rata.
Saya juga berpikir seharusnya kita bertanya tentang penilaian terhadap bagus tidaknya sebuah tontonan itu terletak ditangan siapa? Terus apakah kita mempunyai kapasitas yang tepat sehingga bisa menilai bagus tidaknya tontonan tersebut? Saya pikir pasti semua insan yang bertanggung jawab terhadap hadirnya sebuah tontonan mempunyai penilaian sendiri-sendiri dan bisa menilai dimana letak kesalahannya. Itu juga yang membuat saya tidak pernah menonton tayangan sinetron (kecuali dipaksa), bukan karena saya tidak suka tetapi dikarenakan saya lebih menyukai tayangan yang lain seperti berita/news (ini karena berkaitan dengan kerjaan saya tentunya).
Sekali lagi, tidak ada yang perlu disalahkan dalam menyikapi timbulnya ‘agama’ baru di Indonesia ini, karena seperti hidup, menonton atau tidak mau menonton itu adalah pilihan. Masih banyak tayangan-tayangan lain yang lebih berkualitas dan memiliki bobot lebih, seperti National Geography, Animal Planet, atau juga tayangan-tayangan berita seperti CNN, BBC, Fox News atau juga E! Entertainment (teuteup)
Glen Carolus Pattiradjawane