(buat rekan-rekan yang ingin terjun ke dunia broadcast khususnya media elektronik/televisi)
Sekedar membagi tips untuk teman-teman yang ingin mencoba ‘terjun’ ke dunia broadcast. Ada teman yang mengatakan, takut tanpa memberi alasannya, mungkin karena masih merasa asing. Jawaban saya adalah, kalau belum dicoba, bagaimana bisa merasakan takut atau perasaan lainnya. Dunia broadcast bukanlah ‘momok’, jadi tidak perlu merasa asing atau bahkan takut untuk mengenal bahkan menjalaninya. Kita hidup dan memiliki hubungan sosial dengan mahluk hidup yang lain, artinya banyak hal yang bisa kita dapat sebagai awal langkah untuk belajar bagaimana menjadi seorang reporter, kamera person bahkan menjadi produser untuk sebuah topik liputan. Di bawah ini beberapa tipsnya.
Yang pertama, unsur drama manusia.
Ini adalah salah satu angle yang paling menarik, paling banyak dipertontonkan dan juga yang paling mudah dibuat. Kalau kita melihat betapa banyaknya tayangan infotainment di semua televisi swasta di Indonesia, maka itulah unsur ‘drama’ manusia, entah diambil dari sudut/angle kepribadian, pekerjaan, emosi, dan masih banyak lagi. Sekali lagi, bukan untuk membesarkan atau memanfaatkan kehidupan atau penderitaan orang lain, tetapi lebih kepada adanya unsur pendidikan, membagi informasi dan juga pengetahuan. Makanya saya jarang melihat tayangan infotainment yang lebih kepada unsur mengumbar kehidupan seseorang tanpa menperhatikan unsur-unsur ‘sopan santun’ dan menghormati privasi orang lain. Sudah bukan rahasia lagi kalau ada beberapa tayangan yang memang sengaja ‘dibayar’ oleh pribadi yang bersangkutkan untuk sekedar menaikkan popularitas dan mengeruk keuntungan dari tayangan tersebut. Hal ini bukanlah sebuah tantangan dalam peliputan berita, tapi lebih kepada unsur bisnis.
Yang kedua, laporan investigasi.
Kita tau setiap media massa memiliki team pencari fakta dalam memberikan setiap laporannya secara lengkap dan detail. Hal ini diperlukan untuk memberikan ‘nuansa’ berbeda dengan berita-berita yang disajikan oleh stasiun televisi lain. Semakin berbeda nuansa yang disajikan, maka penonton akan semakin tertarik untuk mengikutinya. Sebagai contoh, saat tewasnya mas Guntur Syaifullah dari SCTV. Stasiun ini memberikan nuansa lain dalam pemberitaan kasus meninggalnya kameraman mereka dibandingkan dengan RCTI, ANTV atau MetroTV karena SCTV memberikan berita secara lengkap dan terperinci, juga memiliki ‘keuntungan’ dari kasus meninggalnya karyawan mereka dalam peliputan tersebut. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh stasiun televisi lainnya karena akses untuk memberikan detail berita secara lengkap hanya dimiliki oleh SCTV. Alhasil, rating liputan 6 menjadi yang terbaik.
Yang ketiga, narsisme.
Biasanya seperti yang sudah-sudah, reporter lapangan yang bisa mendapatkan berita eksklusif dan mereportasekannya langsung dari lapangan/tempat kejadian memiliki kesempatan untuk naik jenjang karir. Kesempatan ini jarang bisa didapat kecuali kita memiliki akses yang luas serta kontak personal di mana pun juga. Semakin cepat berita itu disajikan, apalagi stasiun televisi yang lain belum meliputnya, maka semakin tinggi ‘nilai’ beritanya, dan karir yang baik menunggu di depan mata. Semua orang memiliki narsisme dalam kehidupannya, saya juga. Maka dari itu, sebagai seorang jurnalis, narsisme tidak diharamkan. Harus malah!!
Yang keempat, cek dan ricek berita.
Masih ingat dengan kasus hilangnya pesawat Adam Air pada tanggal 1 Januari 2007 ?
Saat itu diumumkan oleh 1 stasiun televisi bahwa mereka mendapat kabar bahwa pesawat AA sudah ditemukan dengan korban mencapai 96 orang dan yang selamat 12 orang. Maka dikirimkanlah regu/team penyelamat ke lokasi kejadian. Tapi apa yang terjadi, berita itu ternyata bohong alias palsu. Jangan menghitung berapa rupiah yang hilang dari pemberitaan tanpa konfirmasi A-1 (istilah untuk berita yang sudah pasti), tapi pikirkan bagaiman perasaan keluarga korban akibat pemberitaan itu. Sungguh menyedihkan.
Dalam setiap peliputan, kita HARUS memastikan bahwa berita yang akan kita sajikan memang memiliki fakta yang aktual, tanpa harus dibuat-buat, dan sudah kita konfirmasi kebenarannya. Bicara jujur, kadang ada berita-berita yang memang ‘sengaja’ dibuat untuk kepentingan beberapa orang atau golongan, sudah jamak itu, dan kalau sudah seperti itu, kita masuk ke ranah ‘politik’.
Mungkin masih banyak kekurangan dalam tips yang saya berikan, tapi keempat hal diatas adalah langkah dasar buat kita untuk terjun ke dunia broadcasting khususnya dalam peliputan sebuah berita.
Jangan pernah takut untuk terjun ke dunia broadcast, kita tidak akan pernah tau seperti apa kalau kita tidak pernah mau mencobanya. Kalau ada kemauan, disitu pasti ada jalan (pesan dari mas Guntur Syaifullah)
Glen Carolus Pattiradjawane