VJ Weblog

Just another WordPress.com weblog

Indonesia adalah negara sinetron Maret 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Media/Infotainment, Opini — glencp @ 10:36 pm

Saya mencoba menggali informasi ke teman-teman yang bekerja untuk rumah produksi, baik itu yang di Multivision, Sinemart, dan lain-lain tentang pertumbuhan sinetron di negara ini, dan jawaban mereka adalah..’tumben anak news tertarik sama sinetron..’ hahaha, siyal padahal maksud saya adalah untuk bertanya juga sampai seberapa jauh kontribusi pemasukkan iklan dari tayangan sinetron yang mereka jual ke perusahaan-perusahaan televisi di Indonesia. Dari situ, timbul pertanyaan yang keluar karena membaca salah satu blog milik seorang teman yang ‘berkeluh kesah’ tentang isi dan bobot sinetron yang ditontonnya pagi-pagi sebelum ia berangkat bekerja. Ini mengingatkan saya juga bahwa jam tayang sinetron-sinetron ini sudah merambah ke pagi hari, dimana saat para keluarga hendak bersiap-siap melakukan aktivitas mereka. Sungguh luar biasa ekspansi jam tayang ini karena saya sendiri pun baru menyadari setelah membaca blog teman tadi, bahwa jam tayang sinetron sudah mencoba ‘mengganjal’ atau ‘mencuri’ pemirsa yang biasanya menonton tayangan berita pagi.

Pertanyaan yang timbul adalah siapa yang paling bertanggung jawab terhadap ‘ekspansi’ tayangan sinetron di Indonesia, apakah :

a. Stasiun TV, karena mau membeli & menayangkan acara jelek/jiplakan demi rating & iklan
b. Produser, karena hanya memikirkan untuk mencari duit & tidak memikirkan kualitas
c. Sutradara/Penulis Cerita, karena tidak punya kreativitas untuk membuat acara bagus
d. Artis, karena tidak pilih-pilih peran selama honor ok & bisa terkenal
e. Masyarakat, karena doyan nonton acara jelek/jiplakan dan kurang kritis

Kalau kita mau jujur sama diri sendiri, sebenarnya tidak ada yang salah dari pilihan jawaban di atas, apalagi karena sudah menyangkut masalah bisnis dan ekonomi, hukum ekonomi yang paling dasar, supply and demand. Tidak ada keterpaksaan bagi pemirsa untuk mau menonton atau tidak, just push the on/off button, tapi bagi para pengiklan, ini adalah ‘ladang’ mereka untuk mendapatkan keuntungan secara bisnis.

Penonton kita masih terbuai dengan cerita-cerita ‘mimpi’ yang menurut mereka ’siapa tau saya bisa seperti itu’, dan fenomena ini yang berhasil ditangkap oleh para produser untuk menuangkannya dalam ide cerita, karena mereka adalah bagian dari para tukang mimpi itu. Saya tidak menyalahkan mereka, teman-teman produser saya, karena itu adalah bagian dari tugas mereka untuk membuat tayangan yang HARUS laku untuk dijual sehingga rumah produksi mereka mendapat kontrak dari stasiun televisi, dan mereka mendapat bayaran untuk itu. Dan stasiun televisi berhasil mendapatkan pengiklan untuk menayangkannya, sehingga mereka bisa meraih keuntungan dari mengisi slot jam tayang untuk menutup ongkos siar dan membayar karyawan mereka..sekali lagi hukum ekonomi yang sangat mendasar.

Dari pertanyaan teman saya, kenapa tayangan-tayangan/film-film opera sabun seperti Smallville, Charmed, Angel, Desperate Housewives, The X-Files, Ally McBeal etc jam tayangnya selalu malem banget ? Jawabannya mudah sekali, karena tayangan-tayangan film tadi menguras biaya pengeluaran daripada pendapatan para pelaku bisnis televisi. Film-film barat itu kurang laku dibandingkan dengan sinetron seperti Tersanjung (yang sampai 20 itu..), Wulan, dll yg menyerap banyak penonton, terutama kalangan ibu-ibu, dan tentunya ini berpengaruh pada pemasukkan iklan, sekali lagi kita kembali pada hukum ekonomi dan bisnis.

Saya menemukan sebuah ‘fenomena’ lain yaitu penonton yang paling menyukai tayangan-tayangan sinetron ini adalah mereka yang datang dari kalangan urban/menengah ke bawah, artinya mereka memiliki mimpi alam bawah sadar yang lebih luas karena tingkat kehidupan ekonomi mereka, jadi ada yang ingin cepat kaya dalam waktu sekejab tanpa usaha, ingin terkenal seperti pemain sinetron atau bintang film india, bermimpi ingin hidupnya glamour, dan sebagainya. Cerita-cerita tentang kepahlawanan, cinta sejati, penindasan oleh peran antagonis, dan happy ending paling disukai oleh kalangan ini. Sekali lagi, itu tidak salah, dan karena itu lah sinetron di Indonesia tumbuh berkembang luas sejalan juga dengan tingkat kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia yang memang masih di bawah rata-rata.

Saya juga berpikir seharusnya kita bertanya tentang penilaian terhadap bagus tidaknya sebuah tontonan itu terletak ditangan siapa? Terus apakah kita mempunyai kapasitas yang tepat sehingga bisa menilai bagus tidaknya tontonan tersebut? Saya pikir pasti semua insan yang bertanggung jawab terhadap hadirnya sebuah tontonan mempunyai penilaian sendiri-sendiri dan bisa menilai dimana letak kesalahannya. Itu juga yang membuat saya tidak pernah menonton tayangan sinetron (kecuali dipaksa), bukan karena saya tidak suka tetapi dikarenakan saya lebih menyukai tayangan yang lain seperti berita/news (ini karena berkaitan dengan kerjaan saya tentunya).

Sekali lagi, tidak ada yang perlu disalahkan dalam menyikapi timbulnya ‘agama’ baru di Indonesia ini, karena seperti hidup, menonton atau tidak mau menonton itu adalah pilihan. Masih banyak tayangan-tayangan lain yang lebih berkualitas dan memiliki bobot lebih, seperti National Geography, Animal Planet, atau juga tayangan-tayangan berita seperti CNN, BBC, Fox News atau juga E! Entertainment (teuteup)

Glen Carolus Pattiradjawane

 

 

Pengaruh media Maret 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Media/Infotainment — glencp @ 9:51 pm

Begitu besarnya pengaruh media dalam suatu peristiwa baik personal, sosial, budaya, bisnis dan intrik, menjadikan media sering dimanfaatkan oleh sebagian kalangan untuk media promosi diri sendiri atau untuk menyampaikan suatu aspirasi yang tak sampai.

Kadang penyalahgunaan media oleh sebagian pihak yang dilakukan untuk kepentingan pribadi atau komunitas menjadi sesuatu yang lucu (masih ingat penemuan stanza baru lagu Indonesia Raya oleh Roy Suryo dan teamnya justru malah menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat), tetapi di lain pihak itu pula yang dicari media untuk bahan berita. Sampai saat ini media masih menjadi sarana untuk menyampaikan hal yang semula tidak terlihat atau terdengar dan sarana terbaik untuk menjadi netral.

Dengan adanya dinamisme dan keanekaragaman ciri serta selera masyarakat yang berbeda-beda dalam mengkonsumsi media, maka media terbagi menjadi beberapa segmen. Bayangkan kalau semua media yang ada hanya menyampaikan tentang politik saja, atau tentang hiburan saja atau tentang gosip saja, maka sulit sekali pemikiran kita untuk berkembang.

Sekarang tinggal kita, sebagai penonton, pembaca atau pendengar yang melakukan pemilihan dan penyaringan untuk ‘membeli’ yang terbaik buat diri kita sendiri, keluarga dan terutama untuk kepentingan bangsa (biasanya istilah klise ini yang selalu dipergunakan untuk menyampaikan suatu aspirasi), dan kita selaku media juga melakukan usaha untuk lebih melakukan pengetatan, penajaman dan pendistribusian yang sesuai dengan target share yang sesuai.

Beberapa rekan media setuju dengan pendapat bahwa media yang menyampaikan hiburan dan gaya hidup sampai saat ini masih menjadi yang terlaris dan merupakan pemasukkan terbesar untuk mereka. Namun terkadang dikarenakan oleh ketidaktahuan dan kurangnya informasi mengenai peraturan (yang sampai saat ini masih belum juga disahkan), maka terjadilah penyitaan dan penahanan (kasus Asian Agri vs jurnalis majalah Tempo).

Memang tidak bisa dipungkiri, kepentingan bisnis (tidak) selalu diatas segala-galanya. Tetapi bukan berarti kepentingan bisnis SELALU BISA mengalahkan kepentingan-kepentingan yang lain. Masih banyak cara yang bisa ditempuh untuk kembali pada hakekat media yang sebenarnya, yaitu memberikan informasi tanpa memihak, terpercaya dan yang paling penting, menyukseskan program pemerintah untuk memerangi kebodohan bangsa.

Chief Content Editor

Glen Carolus Pattiradjawane
glen.carolus@kantorberita.com

 

 

Youth, sex and TV Maret 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Jurnalistik, Media/Infotainment — glencp @ 9:45 pm

It has been almost a truism that children need to be protected from sexually oriented themes in the media. It’s assumed by many that this is so self-evident that it’s a waste of time to even research the issue.

As a result of the findings of a number of studies, however, many of the beliefs about children and sex are being challenged. In fact, evidence now indicates that many of the widely held beliefs in this area have been the cause of some severe problems, both for youth and society.

Because of the cloud of emotion that surround the issue if sex in general, it has been difficult to do research or publish findings in this area, especially when the research involves children and can threaten the deep personal feelings held by most adults.

Is There A Sexual Revolution?

A national magazine, which undertook a study of the need for sex education in the school, stated that this country presently in the middle of a period of “wrenching change” in the sexual attitudes and behaviour of youth, and most of it is clearly without guidance, information, or control.

Television, being the highly influential medium that it is, has been both part of the solution and part of the problem in the area of sex and youth. It has been part of the solution because it has helped to bring sexual topics out in open (to the consternation of some viewers) where they have a chance of being faced and dealt with.

Research by the TV Watch community reported in 2005 showed that 15 to 24 year olds in Indonesia get most of their information about sex from their friends. This is followed closely by Sex Education Courses. Parents rank third.

We paid, and are continuing to pay a very high price for the silence in matters pertaining to the honest, straight forward presentation of sexual information. The “triple and drivel” about sex that is presented to the adolescent is “dishonest, hypercritical and half baked,” according to one source, who then went on to say that our schizophrenic efforts to prevent adolescent from establishing contact with the real world, whether beautiful or painful, does nothing more than widen the gap between ourselves and them, and make effective adjustment to life more difficult.

Radio and television have been very instrumental in opening doors to the discussions of some topics which were previously ‘taboo’. But sex is not doing much better with the present “demand for performance” and “sexual jock” themes and pressures than it did under the previous “cloak of shame.”

Both extremes have caused, and are causing some severe problems among youth.

GCP 2008

Sources: Syllabus for Universitas Katolik Parahyangan, International Communication class, 2007

 

Infotainment dan informasi yang diharamkan Maret 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Media/Infotainment — glencp @ 8:23 pm

Fatwa haram telah ditembakkan ke jantung infotainmen. Si penembak, tak tanggung-tanggung, organisasi keagamaan terbesar di negeri ini, Nahdlatul Ulama (NU). Gayung bersambut, berbagai kalangan lintas agama mendukung, di dalamnya termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan di Senayan.

Keresahan terhadap tayangan infotainmen sebenarnya sudah lama tertimbun di benak banyak pengamat media dan tokoh masyarakat. Dan fatwa haram NU itu bisa disebut “tembakan yang mematikan” terhadap infotainmen. Pesan yang ingin dibawa: banyak tayangan infotainmen sudah sampai pada tahap membahayakan. Tayangan yang dimaksud seperti menyebarluaskan aib seseorang, mengungkit-ungkit ‘dapur’ tetangga, cerai-nikah-rebutan anak atau perselingkuhan seolah jadi kebiasaan. Intinya hanya penuh bergunjing dan nyaris tiada – untuk tidak mengatakan tidak ada – kepentingan publik di dalamnya. Belum lagi soal perilaku wartawan infotainmen yang ketika mencari berita sering dinilai tak beretika.

Bos Bintang Group yang memproduksi tayangan infotainmen, Ilham Bintang, mengakui fatwa NU sebagai peringatan keras terhadap pengelola infotainmen. Meskipun demikian, ia menegaskan, yang diharamkan NU bukanlah infotainmen-nya tetapi isi tayangannya. Lebih spesifik lagi, yang diharamkan adalah tayangan yang disebut pergunjingan itu.

Sebelum fatwa NU muncul, kontroversi apakah infotainmen termasuk jurnalisme sudah berjalan selama tiga tahun terakhir. Kunci perdebatannya ada pada pemahaman terhadap apakah itu termasuk kepentingan publik. Adakah kepentingan publik di balik tayangan kehidupan pribadi selebritas? Jawabnya beragam, subyektif, dan melibatkan emosi. Jika kepentingan publik dimaksud berhubungan dengan hak dan kewajiban masyarakat luas, dan ada hubungannya dengan negara, tentu infotainmen tidak termasuk di dalamnya.

Namun, kepentingan publik seringkali juga dipahami sebagai adanya kebutuhan informasi dalam diri masyarakat yang plural. Kebutuhan itu termasuk kebutuhan pada informasi hiburan, misalnya tentang kehidupan orang-orang yang diidolakan, seperti yang disuguhkan infotainmen.

Jika demikian, apakah perzinahan artis bisa disebut di dalamnya ada kepentingan publik? Kalau ini ditanyakan kepada Karni Ilyas, Ketua ATVSI, jawabnya “tidak”. Perzinahan, katanya dalam sebuah diskusi, bukan kepentingan publik, karena hanya menyangkut suami dan istri. Perkara hukumnya pun delik aduan (harus ada pengaduan). Karena itu, ketika masuk ke ANTV, Karni kemudian mengakhiri tayangan Betis (Berita Selebriti) yang telah lama disiarkan ANTV.

Infotainmen juga jurnalisme, begitu kira-kira kesimpulan diskusi tentang kontroversi infotainmen yang pernah digelar Dewan Pers tahun 2005 lalu. Semua sepakat wartawan infotainmen menjalankan “5 M” (mencari, memperoleh, memiliki, mengolah, menyimpan, menyampaikan) informasi. Fungsi sebagai media informasi dan hiburan dipenuhi, sedangkan fungsi pendidikan dan kontrol sosial masih diperdebatkan. Pengelola infotainmen tentu saja akan bilang ada fungsi pendidikan dan kontrol sosial dalam tayangan mereka, meskipun tidak seluruhnya.

Persoalannya kemudian, jika setuju disebut sebagai sebuah genre dalam jurnalisme, infotainmen adalah pelanggar terbesar atas Kode Etik Jurnalistik. Cara kebanyakan wartawan infotainmen dalam mencari, mengolah, dan menyampaikan informasi berbeda dengan wartawan media umumnya. Karena itu pula banyak yang menyamakan mereka dengan paparazzi – meskipun itu terlalu ekstrim.

Kode Etik Jurnalistik (2006) meminta wartawan untuk menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik. Apakah itu kepentingan publik, kode etik juga tidak mendefinisikannya. Dalam penjelasan hanya disebutkan “menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya berarti menahan diri dan berhati-hati”. Sedangkan kehidupan pribadi merupakan kehidupan seseorang dan keluarganya yang tidak ingin diungkap, kecuali seseorang itu yang menginginkannya atau terkait kepentingan publik.

Wartawan yang menghormati kehidupan pribadi berarti tidak memaksa artis untuk menjawab pertanyaan, tidak menggedor-gedor pintu mobil, mengintai, menyodorkan pertanyaan yang sama sekali tak berdasar data atau fakta. Karena, jikapun wartawan mendapatkan berita dengan cara demikian, saya yakin berita yang didapatkannya tak lebih sebagai sebuah pergunjingan, kebohongan, dan pembodohan. Dan jika itu terus terjadi kita bisa dukung fatwa NU itu.

Di luar persoalan kepentingan publik yang belum tuntas, juga muncul perdebatan soal fakta. “Kalau memberitakan fakta perceraian artis, boleh dong sejauh itu fakta dan proporsional,” kata Ilham Bintang.

Etiskah jika seluruh fakta diungkap pers, meskipun menyangkut kehidupan pribadi? Tidak selalu. Fakta seharusnya bukan segalanya. Fakta tetap harus disaring melalui kode etik dan ketentuan hukum yang berlaku. Sehingga ada – Ketua NU Hasyim Muzadi menyebutnya – “kebebasan yang bernilai bukan kebebasan tanpa nilai”. Jika seluruh fakta diungkap begitu adanya, saya yakin pers tak ubah tabung tempat bertemunya segala sampah informasi, percecokan tak penting, tanpa tujuan dan makna.

Karena itulah, kita tidak perlu disuguhi tayangan artis berseteru dengan ayahnya yang tidak mengakui ia sebagai anaknya. Atau melihat artis ngomel-ngomel di depan kamera karena dicerocos pertanyaan yang menurutnya dibuat-buat. Artis nikah-cerai-nikah sampai berkali-kali, dan berkata seolah ia hebat. Itu semua adalah fakta yang nilai negatifnya terlampau besar dari positifnya. Namun wartawan bisa menyaring fakta-fakta sampah menjadi bermakna. Itulah tantangan infotainmen.

Bandung 2008

Glen Carolus Pattiradjawane

Untuk bahan pengajaran di FISIP Hubungan Internasional, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung

 

The show must go on Maret 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Media/Infotainment — glencp @ 7:07 pm

Wajah sejumlah selebritis sering kita jumpai di berbagai lokasi, kadang di layar televisi, kadang juga di layar lebar dan bahkan ada yang tampil di panggung membawakan lagu-lagu dari yang baru saja dirilis. Kita sampai pada kesimpulan bahwa betapa beruntungnya mereka tersebut karena diberi oleh Tuhan begitu banyak talenta.

Seringnya terjadi pindah profesi dalam dunia hiburan itu tidak terlepas dari pesatnya perkembangan industri hiburan di tanah air. Pada sisi lain, begitu banyak produk-produk hiburan yang dapat menghasilkan uang yang cukup besar namun para pelakunya masih sangat terbatas. Yang terjadi adalah, meski dengan kemampuan diri yang sangat terbatas, sang selebritis tetap ’memaksakan diri’ untuk tampil dan tidak memikirkan kualitas yang dihasilkan. Sang produser memiliki pemikiran bahwa nama besar sang selebriti tersebut akan menutupi kekurangannya. Tidaklah salah, karena masyarakat kita masih melihat tampang dan nama besar sang selebritis, yang penting tampan dan cantik.

Jalan keluar yang cepat adalah seorang aktris dipoles untuk tampil dalam berbagai profesi. Kadang sebagai aktris sinetron, kadang penyanyi, kadang model iklan, dan kadang peragawati yang tampil di catwalk. Pertunjukkan harus tetap berlangsung atau The Show Must Go On, begitulah istilah dalam industri hiburan. Beberapa dari mereka mengakui bahwa apa yang sekarang ini mereka lakukan tampaknya lebih menyenangkan dibandingkan dengan profesi yang terdahulu dan tentu saja – UANG – adalah salah satu penyebabnya.

Gejala aji mumpung atau ’serba harus bisa’ bukanlah hal baru di lingkungan artis Indonesia dan itu sah-sah saja. Kita semua pernah melihat aksi-aksi mereka di layar kaca dan kembali lagi, semuanya terserah kepada kita sebagai pemirsa dan ’juri’ apakah tetap ingin menonton tayangan mereka atau memindahkan saluran layar kaca kita.

GCP 2008